Lalat selalu dianggap sebagai hewan kotor. Serangga ini hinggap di tempat sampah, kotoran hewan, dan bangkai. Setelah itu, ia terbang dan mendarat di makanan atau minuman manusia. Secara medis, lalat merupakan vektor mekanik penyebab berbagai penyakit infeksi saluran pencernaan.
Namun sebuah hadits Rasulullah Muhammad SAW menyatakan hal yang berbeda. Beliau bersabda, “Jika seekor lalat jatuh ke dalam bejana salah seorang di antara kalian, maka celupkanlah seluruhnya (ke dalam bejana) kemudian buanglah. Karena sesungguhnya pada satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawarnya” (HR Al-Bukhari).
Pernyataan ini menimbulkan kegaduhan di kalangan ilmuwan. Bagaimana mungkin hewan pembawa penyakit justru mengandung penawar? Sebuah penelitian laboratorium dari Universitas Darussalam Gontor mencoba menjawab misteri tersebut.
Metodologi Penelitian yang Teliti
Para peneliti menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 2 kali ulangan. Kelima perlakuan tersebut meliputi:
- Air steril (kontrol positif)
- Air yang dicemari bakteri Escherichia coli (kontrol negatif)
- Air tercemar E. coli + 1 sayap kanan lalat
- Air tercemar E. coli + 2 sayap kanan lalat
- Air tercemar E. coli + 3 sayap kanan lalat
Proses penelitian berlangsung dari November 2017 hingga April 2018 di laboratorium Mikrobiologi Nutrisi Universitas Darussalam Gontor. Pengambilan sayap kanan lalat dilakukan dengan teknik aseptis (steril). Selanjutnya, tim peneliti melakukan pengenceran kultur bakteri E. coli hingga 6 tingkat pengenceran.
Inokulasi bakteri menggunakan metode Pour Plate pada media Eosin Methylene Blue (EMB) agar. Media ini khusus untuk mendeteksi bakteri E. coli yang akan menunjukkan warna hijau metalik jika positif. Semua sampel kemudian diinkubasi selama 12 hingga 48 jam pada suhu 37°C (suhu tubuh manusia).
Pengambilan data dilakukan setiap 12 jam dengan menghitung jumlah koloni bakteri menggunakan colony counter. Alat ini membantu peneliti menghitung titik-titik pertumbuhan bakteri pada cawan petri.
Hasil yang Mencengangkan
Setelah 48 jam inkubasi, hasil pengamatan menunjukkan pola yang sangat jelas.
Pada kontrol positif (air steril), tidak ada pertumbuhan bakteri. Hal ini sesuai dengan standar kualitas air minum menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/SK/IV/2010, yang mensyaratkan angka 0 koloni E. coli per 100 mL air minum.
Pada kontrol negatif (air + bakteri E. coli tanpa sayap kanan lalat), pertumbuhan bakteri terjadi sejak 12 jam pertama. Koloni E. coli tumbuh subur pada media EMB.
Yang mengejutkan: Pada semua perlakuan yang diberi sayap kanan lalat (1, 2, maupun 3 sayap), tidak terjadi pertumbuhan mikroba sama sekali. Angka yang tercatat adalah 0 koloni selama 48 jam inkubasi.
Karena seluruh data perlakuan menunjukkan angka 0 yang identik, tim peneliti tidak bisa menganalisis perbedaan antar perlakuan menggunakan SPSS. Tidak ada variasi data yang dapat diuji secara statistik.
Rancangan Perlakuan dan Hasil Penelitian
| Perlakuan | Deskripsi | Jumlah Koloni Bakteri (48 jam) | Status |
|---|---|---|---|
| Kontrol Positif | Air steril (tanpa bakteri, tanpa sayap lalat) | 0 koloni | Steril |
| Kontrol Negatif | Air + bakteri E. coli (tanpa sayap lalat) | Koloni tumbuh sejak 12 jam | Tercemar |
| Perlakuan A | Air + E. coli + 1 sayap kanan lalat | 0 koloni | Ternetralisir |
| Perlakuan B | Air + E. coli + 2 sayap kanan lalat | 0 koloni | Ternetralisir |
| Perlakuan C | Air + E. coli + 3 sayap kanan lalat | 0 koloni | Ternetralisir |
Kandungan Antibakteri pada Tubuh Lalat
| Sumber Antibakteri | Jenis/Zat | Fungsi | Referensi |
|---|---|---|---|
| Bakteri Actinomyces pada tubuh lalat | Actinomycetin & Actinomycin | Menghancurkan dinding sel bakteri (lisis) | Aj-Taili et al., 2002 |
| Bakteri Bacillus circulans pada sayap kanan | Antibiotik alami | Menghambat pertumbuhan E. coli | Shehab et al., 2014 |
| Enzim dari lalat | Bacteriophages (20-25 nm) | Virus alami yang menghancurkan bakteri spesifik | Rachdie, 2013 |
| Metabolit sekunder Actinomycetes | Antimikroba & antifungi | Menghambat berbagai patogen | Dileep et al., 2013 |
Mengapa Sayap Kanan Bisa Menetralkan Bakteri?
Penjelasan ilmiah di balik fenomena ini cukup menarik. Penelitian dari Departemen Mikrobiologi dan Imunologi Mesir menemukan bahwa sayap kiri lalat mengandung racun (toksin) sementara sayap kanannya mengandung penawar (antibiotik). Lantas, apa sebenarnya yang ada di sayap kanan lalat?
Pertama, bakteri penghasil antibiotik. Penelitian dari Universitas Qassim (Arab Saudi) mengungkapkan bahwa tubuh lalat mengandung bakteri Actinomyces. Mikroorganisme ini memproduksi zat antibiotik bernama Actinomycetin dan Actinomycin. Kedua senyawa tersebut mampu melisis (memecah) dinding sel bakteri sehingga mikroba patogen mati.
Kedua, keberadaan Bacillus circulans. Spesies bakteri ini ditemukan secara spesifik pada sayap kanan lalat. Fungsinya tidak main-main: B. circulans menghasilkan antibiotik alami yang ampuh melawan Escherichia coli.
Ketiga, enzim Bacteriophages. Lalat mengeluarkan enzim berukuran super kecil (20-25 nanometer) yang disebut bacteriophages atau virus pemakan bakteri. Virus ini bekerja dengan cara menyerang dan menggunakan sel bakteri tertentu sebagai inang. Setelah berkembang biak di dalam sel bakteri, bacteriophages menghasilkan enzim endolisin yang memecahkan dinding sel dari dalam. Akibatnya, bakteri mengalami lisis (pecah) dan mati.
Keempat, metabolit sekunder Actinomycetes. Kelompok bakteri ini terkenal dalam bioteknologi karena kemampuannya memproduksi senyawa antimikroba, inhibitor enzim, serta imunomodulator. Senyawa-senyawa inilah yang berkontribusi pada efek penetralan terhadap E. coli.
Menyelami Makna “Celupkan” dalam Hadits
Para peneliti juga menyoroti aspek linguistik hadits tersebut. Rasulullah menggunakan kata faliyaghmishu (ثُمَّ لِيَغْمِسْهُ) yang berarti “celupkan dengan singkat”. Sementara itu, kata tsumma (ثُمَّ) yang berarti “kemudian atau lalu” menunjukkan adanya jeda dan kelambanan.
Interpretasinya: ketika seseorang menemukan lalat jatuh ke dalam minumannya, ia harus mencelupkan seluruh tubuh lalat dengan jeda sekitar satu menit, baru kemudian mengeluarkannya dan membuang minuman tersebut.
Proses perendaman satu menit ini penting. Antibakteri yang berada di sayap kanan lalat membutuhkan waktu untuk menyebar ke permukaan air. Selain itu, bakteri positif penghasil antibiotik (Actinomyces dan Bacillus circulans) perlu waktu untuk “aktif” sebelum masuk ke dalam tubuh manusia.
Menariknya, penelitian ini membuktikan bahwa hanya 1 sayap kanan lalat saja sudah cukup untuk menetralkan E. coli dalam air. Efek antibakteri yang sama terjadi pada perlakuan dengan 2 dan 3 sayap kanan.
Implikasi Penting: Bukan untuk Dicoba di Rumah
Peneliti menegaskan bahwa hasil ini bukan berarti membiarkan lalat jatuh ke dalam minuman lalu meminumnya. Hadits justru memerintahkan untuk membuang minuman tersebut setelah mencelupkan lalat.
Logika di balik perintah ini cukup rasional. Meskipun sayap kanan mengandung penawar, sayap kiri dan bagian tubuh lalat lainnya masih membawa berbagai mikroba patogen. Prinsip kehati-hatian dalam Islam mengajarkan untuk menghindari keburukan (sadd al-dzari’ah) meskipun ada potensi kebaikan di dalamnya.
Dari perspektif medis modern, temuan ini lebih relevan sebagai sumber inspirasi pengembangan antibiotik alami. Ilmuwan dapat mengekstrak senyawa antibakteri dari bakteri Actinomyces atau Bacillus circulans yang hidup pada sayap kanan lalat. Pendekatan ini jauh lebih aman daripada langsung mengonsumsi air yang sudah kemasukan lalat.
Menggugat Paradigma “Zaman Kegelapan”
Penelitian dari Universitas Darussalam Gontor ini mengingatkan kita pada sejarah panjang kolaborasi antara agama dan sains. Selama berabad-abad, sebagian orientalis menyebut era abad pertengahan sebagai “Zaman Kegelapan”. Namun anggapan itu mengabaikan fakta bahwa peradaban Islam justru mengalami zaman keemasan ilmu pengetahuan.
Para ilmuwan Muslim klasik seperti Ibnu Sina, Al-Razi, dan Al-Zahrawi meletakkan fondasi kedokteran modern. Karya-karya mereka diterjemahkan ke bahasa Latin dan menjadi buku teks di universitas-universitas Eropa hingga abad ke-18.
Hadits tentang lalat ini hanyalah satu dari sekian banyak contoh bahwa ajaran Islam mengandung isyarat ilmiah yang baru terkonfirmasi berabad-abad kemudian. Penemuan sayap kanan lalat sebagai sumber antibakteri membuka pintu riset baru tentang:
- Potensi pengembangan antibiotik dari Actinomyces dan Bacillus circulans
- Optimalisasi waktu perendaman untuk aktivasi antibakteri
- Aplikasi bacteriophages untuk mengatasi bakteri resisten antibiotik
Keterbatasan Penelitian dan Rekomendasi
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, data yang seragam (0 koloni pada semua perlakuan) tidak memungkinkan analisis statistik yang mendalam. Kedua, penelitian hanya menggunakan satu jenis bakteri (E. coli). Bakteri patogen lain seperti Salmonella typhi atau Vibrio cholerae belum diuji.
Rekomendasi untuk penelitian lanjutan:
- Identifikasi senyawa spesifik: Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi senyawa antibakteri yang terdapat pada sayap kanan berbagai spesies lalat.
- Optimasi durasi perendaman: Hadits mengisyaratkan adanya jeda waktu (“celupkan” dan “kemudian”). Penelitian lanjutan perlu menentukan durasi optimal agar antibakteri dari sayap kanan lalat dapat aktif sempurna.
- Uji pada berbagai jenis mikroba: E. coli telah terbukti sensitif. Bagaimana dengan bakteri Gram positif seperti Staphylococcus aureus atau jamur patogen?
Kesimpulan: Sains Mengonfirmasi Kebenaran Hadits
Penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa sayap kanan lalat rumah (Musca domestica) mampu menetralkan minuman yang telah tercemar bakteri Escherichia coli. Hasil yang menunjukkan angka 0 koloni pada semua perlakuan dengan sayap kanan lalat tidak dapat diabaikan begitu saja.
Penjelasan ilmiah melalui keberadaan bakteri Actinomyces, Bacillus circulans, dan enzim bacteriophages pada sayap kanan lalat membuka wawasan baru tentang potensi antibiotik alami. Temuan ini sekaligus menjawab kontroversi seputar hadits Rasulullah yang telah berusia lebih dari 14 abad.
Namun demikian, masyarakat tidak dianjurkan untuk mengonsumsi minuman yang sudah kemasukan lalat. Hadits sendiri memerintahkan untuk membuang minuman tersebut. Yang terpenting, penelitian ini menunjukkan bahwa ajaran Islam tidak bertentangan dengan sains modern. Sebaliknya, keduanya dapat saling menguatkan dan menginspirasi penemuan-penemuan baru yang bermanfaat bagi umat manusia.
Referensi: di sini
Artikel Lainnya











