Home / Kesehatan / Seorang Profesor Thailand Masuk Islam Setelah Meneliti Ayat Tentang Kulit dalam Al-Qur’an

Seorang Profesor Thailand Masuk Islam Setelah Meneliti Ayat Tentang Kulit dalam Al-Qur’an

Pada tahun 1984, dalam sebuah konferensi kedokteran di Arab Saudi, seorang profesor anatomi dari Thailand bernama Dr. Tagata Tagasone secara publik mengucapkan dua kalimat syahadat. Peristiwa mengejutkan itu terjadi setelah ia mendengar satu ayat dari Al-Qur’an, yaitu Surah An-Nisa’ ayat 56.

Ayat tersebut berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qur’an 4:56)

Sebagai ilmuwan yang memahami anatomi kulit, Profesor Tagasone langsung menyadari keistimewaan ayat ini.

Sains Kulit yang Dijelaskan 1.400 Tahun Lalu

Kulit manusia bukan hanya lapisan pelindung. Ia adalah organ sensorik terbesar di tubuh, berisi jutaan ujung saraf yang mendeteksi panas, dingin, sentuhan, tekanan, dan yang terpenting: rasa sakit. Jika kulit terbakar habis hingga lapisan paling dalam (luka bakar derajat tiga), semua ujung saraf itu ikut rusak. Akibatnya, area yang terbakar menjadi mati rasa dan tidak lagi merasakan apa pun.

Artinya, agar seseorang bisa terus merasakan siksaan bakar berulang kali, kulitnya harus dipulihkan sepenuhnya, lengkap dengan semua ujung sarafnya. Jika tidak, rasa sakit hanya akan terasa sekali, lalu mati rasa.

Penjelasan medis ini baru diketahui secara rinci pada abad ke-20, ketika para ilmuwan mengklasifikasikan derajat luka bakar dan menemukan reseptor nyeri (nosiseptor) pada tahun 1906. Namun Al-Qur’an telah menyebutkannya dengan sangat tepat pada abad ke-7.

Pertanyaan Kritis yang Mengguncang Keyakinannya

Para peneliti Muslim kemudian mengajukan pertanyaan kritis kepada Profesor Tagasone, “Apakah pengetahuan ini mungkin datang dari sumber manusia, di gurun Arabia 1.400 tahun lalu, pada seorang Nabi yang tidak bisa baca tulis, bukan dokter atau ilmuwan?”

Profesor Tagasone, yang sebelumnya mengaku kitab suci agamanya (Buddha) juga memiliki rincian ilmiah, akhirnya meminta maaf. Setelah memeriksa langsung teks-teks Buddha, ia tidak menemukan satu pun penjelasan akurat tentang embriologi atau regenerasi kulit dan rasa sakit.

Ia juga mempelajari tulisan Profesor Keith Moore, seorang ahli embriologi dunia yang bukunya menjadi rujukan di fakultas kedokteran. Moore sendiri telah menulis studi yang membuktikan keselarasan antara embriologi modern dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Kesimpulan Ilmuwan: “Tidak Mungkin dari Manusia”

Dengan pengetahuannya yang mendalam tentang anatomi, Profesor Tagasone mengakui bahwa ayat Al-Qur’an 4:56 secara jelas merujuk pada pentingnya ujung saraf di kulit untuk merasakan sakit. Ia menyatakan, “Pengetahuan tentang sensasi kulit ini sudah diketahui sejak lama? Tidak. Artinya, mereka sudah tahu ribuan tahun lalu bahwa penerima rasa sakit harus berada di kulit. Lalu mereka mengganti kulit yang baru.”

Ketika ditanya apakah mungkin ayat ini berasal dari sumber manusia, ia menjawab tegas, “Tidak mungkin berasal dari manusia mana pun.”

Lantas dari mana Nabi Muhammad menerimanya? Para peneliti menjawab, “Dari Allah—Pencipta langit dan bumi.”

Profesor Tagata Tagasone pun menerima Islam. Ia tidak masuk karena emosi, tetapi karena keilmuan dan bukti. Kisahnya menjadi salah satu contoh paling kuat bagaimana Al-Qur’an menantang dan meyakinkan para ilmuwan paling terlatih sekalipun.

Referensi: di sini

Artikel Lainnya:

Tagged:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

[mc4wp_form]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *