Mengupas Mitos Gigi Buruk di Zaman Kuno
Bayangan tentang masyarakat abad pertengahan seringkali identik dengan gigi yang menghitam, busuk, dan bau mulut yang menyengat. Gambaran ini begitu melekat dalam film-film dan cerita-cerita populer, seolah-olah kebersihan mulut adalah kemewahan yang tidak dikenal pada masa itu. Namun, sebuah penelitian arkeologi terbaru mengguncang asumsi tersebut dengan mengungkapkan realitas yang jauh lebih kompleks dan menarik.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Environmental Archaeology ini menganalisis sisa-sisa kerangka dari dua situs pemakaman di Santarém, kota bersejarah di Portugal tengah. Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Trent M. Trombley dari Augustana University berhasil mengidentifikasi perbedaan mencolok dalam kesehatan gigi antara komunitas Muslim dan Kristen yang hidup berdampingan di wilayah tersebut antara abad ke-7 hingga ke-13 Masehi.
Ketika Agama Mempengaruhi Kesehatan Gigi
Pertanyaan mendasar yang diajukan para peneliti adalah: apakah keyakinan agama memengaruhi kesehatan gigi seseorang di abad pertengahan? Untuk menjawabnya, mereka memeriksa lebih dari 1.700 gigi dari 381 individu yang dimakamkan di dua lokasi berbeda di Santarém—Avenida 5 de Outubro dan Largo Cândido dos Reis.
Yang membuat penelitian ini istimewa adalah lokasi pemakaman yang berdekatan. Di Santarém, pemakaman Muslim dan Kristen seringkali bersebelahan, memungkinkan perbandingan langsung antara dua komunitas yang hidup di waktu dan tempat yang sama, namun memiliki keyakinan dan praktik budaya yang berbeda.
“Kami menemukan bahwa perempuan Muslim memiliki tingkat kehilangan gigi sebelum kematian, gigi berlubang, dan karang gigi yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki Muslim,” jelas Trombley dalam publikasinya. “Sementara itu, laki-laki Kristen menunjukkan tingkat gigi berlubang dan karang gigi yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki Muslim.”
Tabel 1: Perbandingan Kesehatan Gigi Berdasarkan Agama dan Jenis Kelamin
| Indikator Kesehatan | Perempuan Muslim | Laki-laki Muslim | Perempuan Kristen | Laki-laki Kristen |
|---|---|---|---|---|
| Kehilangan Gigi (AMTL) | 21.70% | 17.49% | 24.12% | 19.78% |
| Gigi Berlubang (Terkoreksi) | 28.67% | 18.47% | 30.53% | 28.34% |
| Karang Gigi | 58.57% | 48.96% | 58.62% | 55.72% |
| Penyakit Periodontal | 39.90% | 35.70% | 39.45% | 38.46% |
Sumber: Diolah dari data penelitian Trombley et al. (2026)
Data di atas menunjukkan pola yang menarik. Perempuan Muslim memiliki tingkat kehilangan gigi dan gigi berlubang yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki Muslim. Sebaliknya, tidak ada perbedaan signifikan antara perempuan dan laki-laki Kristen untuk sebagian besar indikator. Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor spesifik dalam komunitas Muslim—bukan sekadar perbedaan biologis antara jenis kelamin—yang menyebabkan kesenjangan ini.
Gigi Belakang vs Gigi Depan: Medan Pertempuran Utama
Analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa gigi geraham belakang (posterior) jauh lebih rentan terhadap kerusakan dibandingkan gigi depan (anterior), terlepas dari agama atau jenis kelamin. Pada semua kelompok, tingkat kehilangan gigi dan gigi berlubang di bagian belakang mulut jauh lebih tinggi.
“Temuan ini mencerminkan pola makan yang didominasi karbohidrat dari sereal seperti gandum dan jelai,” jelas para peneliti. Makanan yang lengket dan kaya pati ini cenderung menempel di celah-celah gigi belakang, menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri penyebab kerusakan gigi.
Namun, ada pengecualian menarik untuk karang gigi. Berbeda dengan pola kerusakan gigi, karang gigi justru lebih sering ditemukan di gigi depan. Fenomena ini mungkin terkait dengan kebiasaan membersihkan gigi yang lebih efektif menjangkau bagian belakang, atau aliran air liur yang berbeda di berbagai bagian mulut.
Tabel 2: Perbandingan Kesehatan Gigi Depan vs Belakang
| Indikator | Kelompok | Gigi Depan (Anterior) | Gigi Belakang (Posterior) | Perbedaan Signifikan |
|---|---|---|---|---|
| Kehilangan Gigi | Perempuan Muslim | 13.29% | 26.42% | Ya |
| Kehilangan Gigi | Laki-laki Muslim | 8.59% | 22.75% | Ya |
| Gigi Berlubang | Perempuan Muslim | 7.64% | 18.16% | Ya |
| Karang Gigi | Perempuan Muslim | 68.65% | 52.05% | Ya |
| Karang Gigi | Laki-laki Kristen | 64.32% | 48.40% | Ya |
Sumber: Diolah dari data penelitian Trombley et al. (2026)
Pola Makan: Gandum, Jelai, dan Perubahan Zaman
Untuk memahami perbedaan kesehatan gigi, kita harus melihat apa yang dimakan orang-orang abad pertengahan. Wilayah Portugal tengah pada masa itu dikenal dengan produksi sereal seperti gandum (Triticum), jelai (Hordeum vulgare), dan gandum hitam (Secale cereale). Selama periode Islam (711-1149 M), terjadi intensifikasi pertanian dengan diperkenalkannya berbagai buah-buahan seperti ara, anggur, dan plum, serta tanaman baru seperti soba (Fagopyrum esculentum).
“Orang-orang Islam tidak hanya memperkenalkan jeruk, beras, dan sorgum ke semenanjung Iberia, tetapi juga menghidupkan kembali budidaya milet dan alfalfa yang sempat berkurang pada periode Visigothic,” jelas para peneliti mengutip sumber sejarah.
Setelah penaklukan Kristen, terjadi pergeseran pola makan yang signifikan. Masyarakat Kristen mulai lebih banyak mengonsumsi daging babi, sapi, dan sumber daya laut, serta roti dan anggur. Sementara itu, masyarakat Islam lebih mengutamakan domba, kambing, dan unggas. Perbedaan ini tidak hanya mencerminkan preferensi budaya tetapi juga aturan agama—Islam melarang konsumsi babi, sementara Kristen memiliki aturan puasa yang membatasi konsumsi daging darat pada hari-hari tertentu.
Analisis isotop stabil pada sampel kecil dari penelitian ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan Muslim memiliki pola makan yang relatif seragam, didominasi oleh protein dari tumbuhan C3 (seperti gandum dan jelai). Namun, satu individu Kristen menunjukkan pola yang berbeda, kemungkinan mengonsumsi lebih banyak sumber daya laut.
Kebersihan Mulut: Antara Kesalehan dan Kebutuhan
Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah kemungkinan adanya praktik kebersihan mulut yang berbeda antara komunitas Muslim dan Kristen. Teks-teks Islam abad pertengahan, terutama hadits, sangat menekankan pentingnya menjaga kebersihan mulut sebagai bagian dari kesalehan.
Penggunaan siwak (atau miswak)—sikat gigi alami dari ranting pohon arak (Salvadora persica)—dianjurkan dalam berbagai hadits. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Jika aku tidak merasa akan memberatkan umatku, aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu” dan “Jadikanlah kebiasaan untuk bersiwak, karena itu adalah cara membersihkan mulut dan cara meraih ridha Allah.”
Praktik ini tidak hanya tentang kebersihan fisik tetapi juga spiritual. Siwak menjadi bagian dari sunnah—jalan yang dicontohkan oleh para nabi. Para ulama seperti Ibnu Al-Nafis (1211-1288 M) bahkan menulis tentang berbagai resep untuk merawat gusi dan gigi, termasuk menghindari makanan keras dan menggunakan siwak untuk membersihkan sisa makanan.
Meskipun pohon arak tidak tumbuh di semenanjung Iberia, masyarakat setempat mungkin menggunakan tanaman lokal sebagai pengganti. Sebuah survei folklorik menemukan bahwa siwak bisa dibuat dari setidaknya 17 jenis bahan tanaman berbeda, termasuk pohon damar (Pistacia lentiscus) dan zaitun liar (Olea oleaster) yang tumbuh di Portugal.
Di sisi lain, praktik kebersihan mulut di kalangan Kristen abad pertengahan lebih bervariasi dan kurang terstandarisasi. Berbagai ramuan herbal, penggunaan kain linen untuk menggosok gigi, dan terkadang bahan-bahan yang tidak biasa seperti susu dan hati musang digunakan untuk mengatasi sakit gigi. Seorang tabib abad pertengahan, Gilbertus Anglicus, dalam Compendium medicinae (1510 M) menganjurkan penggunaan herbal dan potongan linen untuk menggosok gigi “sampai gusi berdarah.”
Mengapa Perempuan Muslim Memiliki Gigi Lebih Buruk?
Perbedaan kesehatan gigi antara perempuan dan laki-laki Muslim membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Penelitian klinis dan bioarkeologi telah lama menunjukkan bahwa perempuan cenderung memiliki tingkat gigi berlubang dan kehilangan gigi yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, terutama selama masa reproduksi.
Perubahan hormonal selama kehamilan—terutama peningkatan estrogen dan progesteron—dapat memengaruhi kualitas dan kuantitas air liur. Air liur berperan penting sebagai pelumas, penyangga pH, dan agen remineralisasi email gigi. Penurunan aliran air liur selama kehamilan dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pertumbuhan bakteri penyebab kerusakan gigi.
Namun, jika hanya faktor hormonal yang berperan, kita seharusnya melihat pola yang sama pada perempuan Kristen. Kenyataannya, perbedaan antara perempuan dan laki-laki hanya signifikan dalam komunitas Muslim, bukan Kristen. Ini menunjukkan bahwa faktor lain—mungkin perbedaan pola makan atau praktik kebersihan berdasarkan jenis kelamin—turut berperan.
“Sangat mungkin bahwa praktik kebersihan mulut berbeda berdasarkan jenis kelamin dalam komunitas Muslim,” jelas para peneliti. “Laki-laki Muslim mungkin lebih rajin dalam membersihkan gigi mereka, mungkin karena keterlibatan mereka yang lebih besar dalam kehidupan publik dan kebutuhan untuk menjaga penampilan.”
Perlunya Penelitian Lebih Lanjut
Para peneliti mengakui bahwa temuan mereka masih bersifat awal. Mereka menekankan perlunya penelitian lebih lanjut, termasuk analisis isotop stabil yang lebih luas, studi arkeobotani, dan analisis mikroskopis dari karang gigi untuk mencari bukti langsung penggunaan tanaman obat.
“Penelitian di masa depan akan sangat terbantu oleh analisis isotop stabil, studi zooarkeologi/faunal, dan analisis arkeobotani untuk lebih mengontekstualisasikan praktik diet di dalam kota dan wilayah,” tulis mereka.
Analisis karang gigi—yang dapat menjebak partikel makanan, serat tekstil, dan bahkan phytolith (partikel tanaman fosil)—menawarkan peluang menarik untuk mengidentifikasi bahan-bahan yang digunakan sebagai alat pembersih gigi. Sebuah penelitian baru-baru ini bahkan mengidentifikasi jahe (Zingiber sp.) dalam karang gigi individu dari Peterborough, Inggris, yang kemungkinan digunakan sebagai obat.
Pelajaran untuk Masa Kini
Penelitian ini mengingatkan kita bahwa kesehatan gigi bukan hanya masalah genetika atau pola makan, tetapi juga dipengaruhi oleh keyakinan budaya dan agama. Praktik kebersihan mulut yang didorong oleh ajaran agama dapat memiliki dampak nyata pada kesehatan fisik—sebuah hubungan yang masih relevan hingga saat ini.
Di dunia modern dengan berbagai pilihan produk perawatan gigi, kita mungkin lupa bahwa selama berabad-abad, manusia mengandalkan bahan-bahan alami dan praktik yang diwariskan secara turun-temurun untuk merawat gigi mereka. Penelitian seperti ini tidak hanya memberi kita wawasan tentang masa lalu, tetapi juga mengingatkan kita bahwa perawatan kesehatan adalah fenomena budaya yang kompleks, tidak terbatas pada resep medis semata.
Kesimpulan: Gigi Sebagai Cermin Peradaban
Studi tentang gigi abad pertengahan di Portugal ini membuka jendela menarik ke dalam kehidupan sehari-hari dua komunitas yang hidup berdampingan. Gigi-gigi yang tersisa dari ratusan tahun yang lalu berbicara tentang pola makan, praktik kebersihan, keyakinan agama, dan bahkan peran gender dalam masyarakat.
Perbedaan kesehatan gigi antara Muslim dan Kristen, serta antara laki-laki dan perempuan dalam komunitas Muslim, menunjukkan bahwa praktik kesehatan adalah produk kompleks dari berbagai faktor—biologis, budaya, dan spiritual. Ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap kerangka yang ditemukan para arkeolog, terdapat kisah manusia yang nyata dengan kebiasaan, keyakinan, dan perjuangan mereka sendiri.
“Abad Pertengahan sering dianggap sebagai periode kesehatan mulut dan kebersihan yang buruk, namun karikatur semacam itu seringkali tidak berdasar,” simpul para peneliti. “Ketika gigi abad pertengahan diperiksa lebih dekat, kami menemukan variabilitas yang cukup besar, yang menunjukkan bahwa pengalaman tersebut sangat regional sebagai akibat dari variabilitas diet, perbedaan dalam persiapan makanan, tuntutan reproduksi, dan kebersihan mulut.”
Referensi: Trombley TM, Santos H, Liberato M, Matias A and Agarwal SC (2026) The role of religious faith in dental pathological lesion patterning and approaches to care in a medieval Portuguese assemblage. Front. Environ. Archaeol. 4:1646117. doi: 10.3389/fearc.2025.1646117









