Ditulis oleh Nafan Bilal, Mahasiswa LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), Jakarta, Indonesia
Roma di Ambang Kehancuran
Pada awal abad ke-7 Masehi, sejarah mencatat bahwa Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) sedang melewati salah satu periode tergelap dalam sejarahnya. Heraclius, yang baru saja naik tahta sebagai kaisar pada tahun 610 Masehi, harus menghadapi tekanan berat dari Kekaisaran Persia Sasaniyah. Situasi Roma semakin memburuk ketika pasukan Persia berhasil menaklukkan Yerusalem, salah satu kota tersuci dalam tradisi Kristen, dan membawa Salib Sejati pada tahun 614 Masehi. Tidak berhenti di situ, pada tahun 618โ619 Masehi, Mesir juga ditaklukkan oleh Persia. Kekaisaran Persia menjadi semakin dominan dalam perang, sementara wilayah Roma semakin menyusut. Pada saat itu, Kekaisaran Romawi tampaknya berada di ambang kehancuran, sementara kemenangan Kekaisaran Persia tampaknya hanya masalah waktu.
Garis Waktu Peristiwa-Peristiwa Besar (603โ628 M)
| Tahun | Peristiwa | Makna |
|---|---|---|
| 603 Masehi | Kampanye Persia melawan Roma dimulai | Awal Perang Romawi-Persia |
| 610 Masehi | Heraclius naik tahta | Kaisar Romawi baru naik tahta. |
| 614 Masehi | Jatuhnya Yerusalem; Salib Sejati direbut | Situs suci utama umat Kristen hilang. |
| Tahun 618โ619 Masehi | Persia menaklukkan Mesir | Roma kehilangan wilayah dan sumber daya penting. |
| 622 Masehi | Heraclius melancarkan serangan balasan | Titik balik militer Romawi |
| 624โ625 Masehi | Kampanye di Transkaukasia | Roma menekan sumber daya Persia |
| 627 Masehi | Pertempuran Nineveh | Kemenangan telak Romawi atas Persia |
| 628 Masehi | Jatuhnya Khosrow II; perang berakhir | Kekaisaran Persia melemah; wilayah-wilayah dikembalikan. |
Ramalan Al-Qur’an di Tengah Krisis
Namun, di tengah-tengah peristiwa ini, sebuah wahyu turun dari padang gurun Mekah yang tandus, membawa kabar yang pada saat itu tampak sangat sulit dipercaya. Ketika Roma berada di ambang kehancuran, Al-Qur’an justru mengumumkan bahwa bangsa Romawi akan meraih kemenangan dalam beberapa tahun. Kabar ini terdapat dalam Ar-Rum: 2โ6. Al-Qur’an menyatakan bahwa setelah kekalahannya, Roma akan meraih kemenangan dalam waktuย โbiแธสฟ sinฤซn,โย yang menurut Tafsir Ibn Kathir mengacu pada rentang waktu tiga hingga sembilan tahun. Pernyataan ini sangat menarik karena menyampaikan prediksi yang pada saat itu tampak sangat sulit terjadi di masa depan.

Menariknya, jika kita meneliti ayat-ayat tersebut dengan saksama, Al-Qur’an tidak hanya menyatakan bahwa Roma akan menang lagi suatu hari nanti. Sebaliknya, di dalamnya terdapat serangkaian informasi yang dapat dibandingkan dengan catatan sejarah yang ada. Al-Qur’an menjelaskan bahwa bangsa Romawi telah mengalami kekalahan, tetapi mereka akan merebut kembali kemenangan dalam beberapa tahun. Tidak berhenti di situ, Allah juga menekankan bahwa janji-Nya tidak pernah gagal. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya memberikan prediksi, tetapi menegaskan bahwa hal itu pasti akan terjadi.
Abu Bakr, Quraysh, dan Taruhan
Kitab Jami’ at-Tirmidhi mencatat sebuah kisah menarik. Kitab ini menggambarkan respons Mekah terhadap kekalahan Roma. Ketika Persia berhasil mengalahkan Roma, kaum Muslim merasa sedih dan berharap Roma dapat mengalahkan Persia lagi karena Roma adalah Ahlul Kitab (Ahli Kitab). Sebaliknya, kaum kafir Quraisy bersukacita atas kemenangan Persia dan berharap mereka dapat mengalahkan Roma. Dalam riwayat Ibnu Abbas, hal ini dikaitkan dengan kesamaan antara Persia dan kaum politeis dalam penyembahan berhala.
Di tengah situasi itu, ayat-ayat pembuka Surah Ar-Rum diturunkan. Pesan tersebut menegaskan bahwa Roma akan merebut kembali kemenangan dalam beberapa tahun. Abu Bakar Asy-Shiddiq kemudian menyampaikan kabar ini kepada penduduk Mekah. Mendengar itu, sejumlah orang kafir Quraisy menantang Abu Bakar karena mereka ragu bahwa Roma dapat membalikkan keadaan. Tantangan itu kemudian berujung pada taruhan mengenai kemenangan Roma, yang menurut riwayat terjadi sebelum taruhan dilarang.
Abu Bakr kemudian menyetujui batas waktu enam tahun dengan kaum Quraisy. Ia ingin melihat apakah Roma benar-benar akan meraih kemenangan. Namun, setelah enam tahun, Roma masih belum berhasil mengalahkan Persia. Kaum Quraisy kemudian mengambil taruhan Abu Bakr, sementara Abu Bakr menyampaikan masalah tersebut kepada Rasulullah. Rasulullah SAW bersabda bahwa ‘biแธสฟ siniin’ (pertaruhan) berlangsung selama tiga hingga sembilan tahun; batas waktu enam tahun tidak melebihi rentang waktu tersebut. Abu Bakr kemudian memperpanjang batas waktu taruhan tersebut. Pada tahun berikutnya, Roma akhirnya berhasil meraih kemenangan atas Persia, sebagaimana dinubuatkan dalam ayat-ayat pembuka Surah Ar-Rum.
Kisah di atas menunjukkan bahwa berita kemenangan Romawi tidak hanya menjadi bagian dari perdebatan antara Muslim dan Quraisy, tetapi juga terhubung dengan sejarah yang berlanjut. Ketika wahyu diturunkan, Roma berada dalam posisi tertekan setelah Persia memberikan kekalahan besar kepada Roma. Jadi, bagaimana situasi sulit seperti itu akhirnya dapat dibalikkan? Jawabannya dapat ditemukan dalam serangkaian peristiwa yang terjadi pada tahun-tahun berikutnya.
Kebangkitan dan Kemenangan Roma
Perubahan mulai terlihat pada tahun 622 M. Pada saat itu, Kaisar Heraclius melancarkan kampanye militer untuk menghadapi Kekaisaran Persia. Setelah bertahun-tahun menderita kekalahan dan kehilangan wilayah-wilayah penting, Heraclius mulai memimpin pasukannya ke wilayah yang dikuasai Persia. Encyclopaedia Iranica mencatat bahwa sejak tahun 622 M Heraclius memulai serangkaian kampanye militer dan beberapa kali berhasil mengejutkan dan mengalahkan pasukan Persia.
Kebangkitan Romawi tidak terjadi dalam satu pertempuran saja, tetapi Heraclius melanjutkan kampanye militernya di tahun-tahun berikutnya. Sejarawan dunia James Howard-Johnston dari Universitas Oxford menjelaskan bahwa pada tahun 624โ625 M, Heraclius memimpin serangkaian operasi militer di Transkaukasia dan berhasil memenangkan beberapa pertempuran, sekaligus memberikan tekanan besar pada sumber daya Persia. Dengan demikian, situasi perang yang sebelumnya sangat menguntungkan Persia perlahan mulai berbalik.
Perubahan ini terus berkembang hingga mencapai kemenangan besar di tahun-tahun berikutnya. Oleh karena itu, kita menganggap tahun 622 M sebagai titik balik militer Romawi, bukan sebagai tahun di mana kita memenangkan seluruh perang secara langsung; sejak tahun ini, kebangkitan yang sebelumnya mustahil dimulai. Hingga akhirnya, puncak keberhasilan serangan balik Romawi terjadi dalam Pertempuran Nineveh pada tahun 627 M, ketika pasukan Heraclius berhasil mengalahkan pasukan Persia secara telak. Kekalahan ini semakin melemahkan Kekaisaran Persia dan kemudian diikuti oleh jatuhnya Khosrow II pada tahun 628 M.
Kesesuaian Nubuat Al-Qur’an dengan Sejarah
Jika kita membandingkan rangkaian peristiwa di atas dengan penjelasan Al-Qur’an, kita akan menemukan kesamaan yang menarik dalam rentang waktu yang disebutkan. Dalam ayat-ayat pembuka Surah Ar-Rum, disebutkan bahwa Roma, yang telah mengalami kekalahan, akan meraih kemenangan kembali dalam waktu โbiแธสฟ sinฤซn.โ Istilah โbiแธสฟโ dalam riwayat yang disebutkan sebelumnya mencakup rentang waktu tiga hingga sembilan tahun.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa situasinya benar-benar berbalik. Setelah menderita serangkaian kekalahan dan kehilangan wilayah-wilayah penting, Roma di bawah Kaisar Heraclius mulai melancarkan serangan balik terhadap Persia pada tahun 622 M. Kampanye militer berlanjut pada tahun-tahun berikutnya hingga Roma meraih kemenangan telak dalam Pertempuran Nineveh pada tahun 627 M. Perkembangan ini kemudian terjadi setelah jatuhnya Khosrow II pada tahun 628 M dan berakhirnya perang dengan kembalinya sejumlah wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Persia.
Al-Qur’an tidak hanya menyebutkan bahwa Roma akan menang lagi, tetapi juga memberikan rentang waktu, yaitu biแธสฟ sinฤซn. Ketika kemenangan itu akhirnya terjadi, peristiwa tersebut menjadi bagian dari rangkaian sejarah yang sesuai dengan laporan Al-Qur’an mengenai kembalinya kemenangan Romawi setelah kekalahan mereka.
Korelasi Antara Ramalan Al-Qur’an dan Peristiwa Sejarah
| Aspek | Pernyataan Al-Qur’an (ar-Rum 1โ6) | Catatan Sejarah |
|---|---|---|
| Kondisi awal | Bangsa Romawi dikalahkan di wilayah sekitarnya. | Persia menaklukkan Yerusalem (614), Mesir (618โ619) |
| Ramalan | Bangsa Romawi akan menang dalam waktu โbiแธสฟ sinฤซnโ (3โ9 tahun) | Serangan balasan Heraclius dimulai pada tahun 622 M. |
| Titik balik | Kemenangan demi kekalahan | Kampanye 622โ625 M; Pertempuran Nineveh 627 M |
| Hasil akhir | Bangsa Romawi meraih kemenangan; janji Allah terpenuhi. | Persia dikalahkan; Jatuhnya Khosrow II (628 M) |
| Jangka waktu | Dalam kurun waktu 3โ9 tahun setelah wahyu (~615โ617 M) | Kemenangan diraih pada tahun 622โ628 M (dalam rentang waktu tersebut) |
Kesimpulan
Kisah kemenangan Romawi dalam Surah Ar-Rum secara historis menunjukkan bahwa Al-Qur’an mengumumkan kabar masa depan pada saat itu ketika Roma menghadapi tekanan besar. Ketika Persia berada dalam posisi yang lebih unggul dan Roma telah menderita kekalahan besar, Al-Qur’an justru mengumumkan bahwa Roma akan merebut kembali kemenangan dalam waktu โbiแธสฟ sinฤซn.โ Beberapa tahun kemudian, sejarah mencatat kebangkitan militer Romawi di bawah Kaisar Heraclius hingga akhirnya meraih kemenangan telak atas Persia. Rangkaian peristiwa ini menunjukkan kesesuaian yang menarik antara laporan Al-Qur’an dan catatan sejarah.
Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa janji Allah dalam Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang dapat kita anggap sebagai dugaan manusia. Apa yang pada saat itu tampak sulit terjadi, pada akhirnya benar-benar terjadi. Bagi seorang Muslim, peristiwa ini menjadi salah satu bukti yang memperkuat keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah dan bahwa janji-Nya pasti benar.
Referensi:
Tafsir Ibn Kathir,
Jami’ al-Tirmidhi,
Tafsir Ibnu Katsir,
Tafsir al-Jalalayn
Ensiklopedia Iranika
James Howard-Johnston: Perang Besar Terakhir di Zaman Kuno






