Ketika pesawat mendarat di Narita atau Haneda, para wisatawan Muslim kini disambut dengan papan penunjuk arah kiblat dan daftar restoran halal. Pemandangan ini mungkin terasa biasa bagi warga Indonesia atau Malaysia, namun bagi Jepangโnegara yang terkenal dengan homogenitas budaya dan agamanyaโini adalah revolusi diam-diam yang berlangsung selama lebih dari satu abad .
Penelitian terbaru dari Akiko Komura, akademisi di Universitas Comenius, Bratislava, mengupas tuntas perjalanan panjang tersebut. Artikel ilmiahnya yang terbit di jurnal Eskiyeni pada 31 Desember 2025 mengungkap peran sentral Muslim asing dalam membentuk cara pandang masyarakat Jepang terhadap Islam .
Lalu, bagaimana sejarahnya? Lebih penting lagi, apa yang mendorong perubahan dramatis di negeri Matahari Terbit ini?
Babak Awal: Kapal Karam yang Membuka Mata
Kisah penerimaan Islam di Jepang tidak dimulai dengan para da’i atau cendekiawan, melainkan sebuah tragedi maritim. Pada 1890, kapal perang Ottoman, Ertugrul, dikirim dalam misi persahabatan ke Jepang. Namun, saat kembali, kapal itu diterjang topan dahsyat dan karam di lepas pantai Prefektur Wakayama .
Dari 609 awak, hanya 69 orang yang selamat berkat pertolongan warga Pulau Oshima . Pemerintah Meiji yang berterima kasih memulangkan para penyintas dengan dua kapal perang Jepang, Hiei dan Kongo. Momen ini menjadi kontak langsung pertama antara masyarakat biasa Jepang dengan Muslim Turki .
Seorang jurnalis muda bernama Shotaro Noda ditugaskan mengantar uang sumbangan untuk keluarga korban. Noda tinggal di Turki, mengajar bahasa Jepang, dan menjadi Muslim Jepang pertama yang tercatat. Namun, kehidupan Noda berakhir tragis setelah kembali ke Jepang: ia terjerat kasus penipuan dan meninggal dalam kondisi memprihatinkan pada 1904 .
Meski begitu, benih kontak telah tertanam. Masuknya Islam berikutnya tidak lepas dari kepentingan politik.
Masa Perang: Politik “Kaikyo Seisaku” dan Masjid Pertama
Memasuki era 1930-an, Jepang memperluas pengaruhnya ke Manchuria dan China Utara. Di wilayah tersebut terdapat komunitas Muslim Tiongkok yang besar. Untuk kepentingan ekspansi, pemerintah Jepang meluncurkan kebijakan yang disebut Kaikyo Seisaku atau Kebijakan Islam .
Kebijakan ini membawa perubahan signifikan: studi tentang Islam menjadi bagian penting dari kepentingan nasional Jepang. Para cendekiawan dan intelijen mempelajari agama ini dari Muslim asing, terutama dari kalangan Turkik Asia Tengah yang melarikan diri dari Revolusi Bolshevik .
Tokoh penting seperti Abdรผrresid Ibrahim diundang ke Jepang. Ia menjadi imam di Masjid Tokyo yang dibuka pada 1938. Selain itu, Masjid Kobe juga berdiri pada 1935 berkat donasi dari pedagang Muslim asing yang menetap di kota pelabuhan tersebut .
Menariknya, pembangunan masjid-masjid ini sebagian besar didanai oleh Muslim asing dan simpatisan Jepang, bukan oleh misionaris. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, pengembangan Islam di Jepang tidak terlepas dari inisiatif komunitas pendatang .
Era Pasca-Perang: Sendiri dan Keterbatasan
Perang Dunia II berakhir, dan situasi berubah drastis. Dukungan pemerintah terhadap Islam lenyap. Sebagian besar Muslim Tatar memilih kewarganegaraan Turki dan meninggalkan Jepang. Mereka yang tersisa, baik Muslim Jepang maupun asing, harus membangun komunitas secara mandiri .
Tanpa bantuan dana dan politik, perkembangan Islam mandek. Pada 1970-an, hanya ada sedikit masjid. Muslim yang tersisa, yang tergabung dalam Japan Muslim Association (didirikan 1952), berjuang keras untuk memperkenalkan Islam .
Fujio Komura (sejarawan Muslim Jepang) mencatat bahwa kegiatan dakwah seringkali gagal karena ajaran Islam dianggap tidak cocok dengan keseharian orang Jepang. Bahkan ada upaya menciptakan “Mahayana Islam” yang menyesuaikan doktrin agar mudah diterima, namun gagal karena menyimpang dari ajaran utama . Upaya penerjemahan Al-Quran oleh Ryoichi Mita pada 1972 menjadi salah satu pencapaian penting di masa sulit ini .
Ledakan 1980-an: Gelombang Pekerja dan Mualaf karena Pernikahan
Titik balik besar terjadi pada akhir 1980-an. Jepang mengalami ekonomi gelembung (bubble economy). Permintaan tenaga kerja melonjak, sementara populasi lokal tidak mencukupi, terutama untuk pekerjaan kasar atau 3K (Kitsui, Kitanai, Kiken โ Keras, Kotor, Berbahaya) .
Laki-laki dari Iran, Pakistan, dan Bangladesh datang berbondong-bondong. Mereka memanfaatkan program bebas visa untuk masuk dan mencari pekerjaan . Kehadiran massal ini mengubah lanskap sosial.
Banyak pekerja Muslim menikahi perempuan Jepang. Karena dalam Islam, pernikahan beda agama untuk wanita Muslim tidak diperbolehkan, para istri tersebut kemudian memeluk Islam . Fenomena ini menjadi pintu utama konversi di era modern. Namun, catatan peneliti, seperti Komura, menyebutkan bahwa motif konversi seringkali bukan karena keyakinan mendalam, melainkan untuk mempertahankan rumah tangga. Akibatnya, banyak yang keluar dari Islam setelah bercerai .
Lonjakan Infrastruktur Islam di Jepang
Tabel ini menunjukkan pertumbuhan pesat masjid dan populasi Muslim sebagai cermin penerimaan dan kebutuhan komunitas.
Era Modern: Wisatawan, Mahasiswa, dan “Omotenashi” Halal
Memasuki abad ke-21, pendorong perubahan bukan lagi hanya pekerja, tetapi juga wisatawan dan pelajar. Sejak kebijakan Visit Japan Campaign diluncurkan pada 2003 dan pelonggaran visa 2013, wisatawan Muslim dari Asia Tenggara (terutama Malaysia dan Indonesia) meningkat tajam .
Masyarakat Jepang merespons dengan “Omotenashi”โsemangat keramahan khas Jepang. Restoran mulai menyediakan menu halal. Bandara dan stasiun kereta menyediakan ruang shalat (musalla) . Bisnis sertifikasi halal pun bermunculan, meski sempat menuai masalah karena maraknya sertifikat abal-abal yang akhirnya diselesaikan dengan pengakuan dari lembaga luar negeri seperti JAKIM (Malaysia) .
Universitas juga menjadi garda depan. Dengan meningkatnya mahasiswa Muslim, kampus-kampus seperti di Tokyo dan Osaka membuka kafe halal dan ruang ibadah. Hal ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa Jepang untuk berinteraksi langsung dengan Muslim dan belajar tentang keberagaman .
Tren Kunjungan Wisatawan Muslim (Malaysia & Indonesia) ke Jepang
Data ini menegaskan pengaruh pariwisata terhadap meningkatnya kebutuhan fasilitas ramah Muslim.
Kontradiksi dan Masa Depan
Meski menunjukkan grafik positif, penelitian Komura menyoroti ironi. Ketika pembangunan fasilitas Islam seperti pemakaman Muslim direncanakan, penolakan dari warga lokal seringkali keras. Ini dipicu oleh perbedaan pandangan hidup dan mati, serta pengaruh pemberitaan negatif tentang Islam di media .
Jepang saat ini berada di persimpangan. Di satu sisi, ekonomi dan pariwisata membutuhkan kehadiran Muslim. Di sisi lain, masyarakat tradisional masih bergulat dengan penerimaan budaya asing. Namun, studi ini menegaskan: kontak langsung dengan Muslim asing terbukti lebih efektif membangun pemahaman dibandingkan informasi tidak langsung seperti berita .
Kesimpulan: Peran Vital Muslim Asing
Perjalanan Islam di Jepang adalah kisah tentang adaptasi, kebutuhan ekonomi, dan interaksi antarmanusia. Tanpa peran aktif Muslim dari Turki, Asia Tengah, Pakistan, Bangladesh, dan Indonesia, Islam mungkin hanya akan menjadi topik kajian akademis yang dingin bagi orang Jepang. Kontak langsunglah yang mengubah persepsi.
Dari 3 masjid menjadi 133, dari kapal karam menjadi kafe halal di kampusโperjalanan ini menunjukkan bahwa pemahaman budaya tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia lahir dari pertemuan, pernikahan, kerja sama bisnis, hingga semangat menyambut tamu. Dan dalam prosesnya, Jepang, yang dikenal sebagai negara homogen, perlahan-lahan membuka dirinya pada keberagaman.
Referensi: di sini
Artikel Lainnya:






