Iklan pinjaman online di mana-mana. “Cair 5 menit!” “Bunga rendah!” “Tanpa agunan!” Seruan-seruan manis ini terus-menerus membombardir kita setiap hari – di ponsel, di televisi, di pinggir jalan.
Bagi kebanyakan orang, itu cuma iklan. Tapi bagi sebagian orang, itu adalah panggulan ular yang menjerumuskan mereka ke dalam jurang yang tak bertepi.
Ilmuwan menyebut fenomena ini dengan nama baru: kreditholisme – kecanduan terhadap utang. Dan yang mengerikan: pola kecanduan ini persis sama dengan alkoholisme. Mulai dari euforia, toleransi (butuh dosis lebih besar), putus zat, malu, lalu kambuh lagi.
Islam, yang sudah turun 14 abad lalu, ternyata sudah lebih dulu memperingatkan. Rasulullah ﷺ bahkan secara khusus berlindung kepada Allah dari utang – dan beliau menyebutkannya tepat setelah berlindung dari dosa.
Mari kita bedah.
Bukan Sekadar “Boros” atau “Hidup Gaya”
Dr. Robert Jeżewski, peneliti dari Polandia, melakukan studi terhadap 43 anggota kelompok pendukung Anonymous Creditholics di kota Wrocław pada tahun 2021. Mereka bukan orang-orang yang tidak punya pekerjaan. Bukan pula orang yang tidak paham agama.
Mereka adalah orang-orang yang terjebak – dan tidak bisa keluar.
Hasil studinya sungguh mencekik dada.
Gejala Kecanduan Utang – Versi Sains (dan Ternyata Islam Sudah Bilang)
| Gejala | Persentase | Apa Kata Islam? |
|---|---|---|
| Menyembunyikan perilaku utang dari keluarga | 100% | Bohong dan menyembunyikan adalah dosa. Mukmin itu jujur. |
| Frustrasi berat saat pengajuan pinjaman ditolak | 94% | Ini tandanya hati sudah terikat pada dunia. Qana’ah (merasa cukup) adalah obatnya. |
| Kompulsif mengecek penawaran pinjaman online | 81% | Ini waswas setan. Allah perintahkan kita berlindung dari godaan setan. |
| Cemas jika tidak mengecek pinjaman | 81% | Kecemasan adalah lawan dari tawakal. Orang yang bertawakal tidak cemas berlebihan. |
| Meninggalkan aktivitas lain demi mencari pinjaman | 75% | Ini bentuk israf (pemborosan waktu). Waktu adalah amanah dari Allah. |
| Memiliki kecanduan perilaku lain (judi, belanja, dll.) | 100% | Kekosongan jiwa. Yang butuh diisi bukan utang, tapi dzikir dan ibadah. |
*Sumber data: Jeżewski, R. (2021). Creditalism – a new behavioral addiction to borrowing.*
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka ada manusia. Ada suami yang tidak bisa tidur. Ada istri yang menangis di kamar mandi. Ada anak yang tidak tahu kenapa orang tuanya selalu bertengkar soal uang.
Spiral Setan: Dari Pinjam Sedikit Menjadi Tenggelam
Prosesnya selalu sama. Peneliti menyebutnya debt spiral atau credit loop – lingkaran utang yang tak berujung.
Tahap satu: Seseorang merasa tertekan – mungkin karena pekerjaan, masalah rumah tangga, atau rasa rendah diri karena tetangga punya TV lebih besar. Lalu ia melihat iklan pinjaman. “Ah, pinjam sedikit saja. Nanti gajian bayar.”
Tahap dua: Ia meminjam. Uang masuk. Tiba-tiba… lega. Ada euforia. Rasanya seperti beban hilang. (Ilmuwan menyebut ini mirip dengan efek alkohol.)
Tahap tiga: Tiba waktu bayar. Ternyata berat. Bunganya membengkak. Ia panik. Tapi lalu ia ingat: “Pinjam lagi aja. Buat nutup utang yang lama.”
Tahap empat: Pinjaman kedua cair. Lega lagi. Tapi sekarang ia punya dua utang. Tekanan lebih besar. Butuh pinjaman lebih besar untuk merasa lega.
Tahap lima: Kredit macet. Juru sita datang. Rumah tangga berantakan. Kesehatan hancur. Ada yang depresi. Ada yang sampai berpikir untuk bunuh diri.
Inilah yang disebut spiral setan. Dan Islam sudah memperingatkannya dengan sangat tegas.
Bukan Sekadar “Haram Riba” – Ini Lebih Dalam dari Itu
Seringkali kita mendengar ceramah tentang haramnya riba. Tapi persoalan kecanduan utang ini lebih dari sekadar halal-haram bunga bank.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan dari utang.”
Perhatikan: Utang disebut tepat setelah dosa. Para ulama terpana mendengar ini. Bahkan sebagian berpendapat bahwa utang yang tidak dibayar bisa menghalangi seseorang masuk surga – meskipun ia mati syahid.
Ada satu kisah yang sangat terkenal. Suatu ketika, Rasulullah ﷺ tidak mau menshalati jenazah seorang sahabat yang meninggal karena terlilit utang. Beliau berkata: “Apakah ia meninggalkan pelunasan untuk utangnya?” Para sahabat menjawab bahwa ia tidak meninggalkan apa pun. Maka Rasulullah ﷺ tidak menshalatnya sampai ada sahabat lain yang bersedia menjamin utang tersebut.
Ini bukan karena beliau kejam. Ini karena utang adalah perkara serius – bahkan di sisi Allah.
Allah berfirman dalam Surah At-Takatsur (102:1-2):
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
Ayat ini menggambarkan psikologi kreditholisme dengan sempurna. Orang kecanduan utang tidak sedang meminjam untuk kebutuhan. Mereka meminjam untuk merasa lebih – lebih kaya, lebih dihormati, lebih tenang. Tapi perasaan itu semu. Dan mereka terus dikejar-kejar oleh “lebih” sampai ajal menjemput.
Nabi ﷺ juga bersabda: “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia akan menginginkan dua lembah. Tidak ada yang bisa mengisi mulutnya selain tanah (kubur). Dan Allah menerima taubat siapa yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari).
Inilah akar penyakitnya: tamak. Dan Islam punya obatnya: qana’ah – perasaan cukup dengan apa yang Allah berikan.
Siapa yang Paling Berisiko? Sains dan Islam Sependapat
Studi ini juga mengungkap data demografis yang menarik sekaligus mengkhawatirkan.
Siapa Paling Rentan Kecanduan Utang? (Versi Sains + Renungan Islam)
| Faktor | Tingkat Risiko | Mengapa? (Perspektif Islam) |
|---|---|---|
| Laki-laki vs Perempuan | Laki-laki 120% lebih tinggi | Tekanan sosial sebagai ‘pencari nafkah’ kadang terlalu berat. Islam mengingatkan bahwa rezeki dari Allah, bukan dari utang. |
| Pendidikan dasar/menengah vs tinggi | Dua kali lebih berisiko | Kurangnya literasi keuangan syariah. Mencari ilmu itu wajib – termasuk ilmu mengelola uang. |
| Memiliki kecanduan perilaku lain | 100% (semua kreditholik punya kecanduan lain) | Jiwa yang kosong tidak cukup diisi satu ‘obat penenang’. Butuh kembali ke Allah. |
| Memiliki 3+ kecanduan lain | 29% | Ini kondisi darurat spiritual. Butuh intervensi segera – taubat, terapi, dan dukungan komunitas. |
Sumber data: Jeżewski, R. (2021).
Laki-laki 120% lebih rentan. Ini penting. Karena dalam masyarakat kita, laki-laki sering dipaksa menjadi “pahlawan finansial”. Malu bilang tidak punya. Malu anaknya tidak dapat gadget terbaru. Malu istri tidak dia belikan ini itu.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang lain: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kebakhilan, dan lilitan utang.” (HR. Tirmidzi)
Perhatikan: beliau tidak hanya mengajarkan doa untuk laki-laki saja. Tapi jelas bahwa beban utang sering kali lebih membebani kaum pria karena peran sosial mereka.
Learned Helplessness – Dan Jawaban Islam yang Tajam
Para psikolog punya istilah learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari). Ini kondisi ketika seseorang sudah begitu sering gagal atau tertekan, sehingga ia menyerah. Ia tidak lagi berusaha. Ia hanya pasrah. Ia berharap masalahnya selesai dengan sendirinya, atau ada orang lain yang menyelesaikan.
Kedengarannya familier? Banyak orang terlilit utang yang sudah tidak lagi membuka amplop tagihan. Mereka tidak mau tahu. Mereka hanya berharap keajaiban.
Islam punya jawaban tegas untuk ini: ikhtiar dulu, baru tawakal.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Ikatlah untamu, kemudian bertawakkallah.” (HR. Tirmidzi).
Learned helplessness adalah kondisi di mana seseorang berhenti mengikat untanya. Ia sudah putus asa. Ia membiarkan untanya lepas, lalu berdoa “Ya Allah, tolong kembalikan untaku.”
Itu bukan tawakal. Itu kelalaian.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d 13:11).
Bagi kreditholik, ini berarti: hentikan perilaku kompulsif. Cari bantuan profesional. Bertaubat dengan sungguh-sungguh. Buat anggaran. Jauhi pinjaman berbunga. Cari utang tanpa riba (qard hasan). Minta tolong pada keluarga dan komunitas.
Jangan hanya pasrah.
Apa Dampaknya? Bukan Cuma Kantong Kering, Tapi Hidup Hancur
Studi ini mencatat bahwa ketika kreditholik akhirnya meminta tolong, biasanya mereka sudah sampai di tahap paling parah.
Banyak dari mereka sudah memiliki:
- Juru sita yang menyita barang-barang
- Perkara pengadilan yang menumpuk
- Penyakit-penyakit akibat stres (hipertensi, insomnia, depresi)
- Hubungan keluarga yang retak parah
- Bahkan pikiran untuk bunuh diri
Islam memandang ini semua sebagai kehancuran yang dilarang. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah 2:195).
Utang yang menyebabkan stres berat, penyakit, perceraian, atau bunuh diri – ini bukan lagi sekadar “masalah keuangan”. Ini adalah bencana spiritual.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang orang yang bunuh diri – bahwa mereka tidak akan masuk surga dengan cara yang sama seperti orang yang mati biasa. Ini adalah peringatan paling keras bahwa menghancurkan diri sendiri tidak pernah dibenarkan, apa pun alasannya.
Jalan Keluar Menurut Islam: Bukan Sekadar “Taubat” Tapi Tindakan
Islam tidak pernah membiarkan umatnya dalam keputusasaan. Pintu taubat selalu terbuka. Allah berfirman:
“Katakanlah: Wahai hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.” (QS. Az-Zumar 39:53).
Tapi taubat harus sungguh-sungguh. Bukan sekadar “Ya Allah, aku berjanji tidak akan mengulangi” – lalu besok pinjam lagi.
Berikut langkah praktis yang diajarkan Islam dan didukung oleh sains modern:
1. Taubat Nasuha
Hentikan segera. Jangan tunda. Hapus semua aplikasi pinjol di ponsel. Blokir nomor-nomor marketing. Jangan coba-coba “sekali lagi”.
2. Cari Qard Hasan (Utang Tanpa Bunga)
Jika memang ada kebutuhan darurat, cari pinjaman dari keluarga, teman, atau lembaga keuangan syariah yang benar-benar bebas riba. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa memberi pinjaman (qard) lebih baik daripada sedekah dalam beberapa aspek, karena mempertahankan harga diri peminjam.
3. Qana’ah – Belajar Merasa Cukup
Ini adalah latihan jiwa. Setiap hari ucapkan alhamdulillah atas apa yang ada. Kurangi lihat postingan media sosial yang pamer harta. Ingat bahwa kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa, bukan kekayaan dompet.
4. Terapi Profesional (Tidak Bertentangan dengan Islam)
Islam tidak pernah melarang berobat. Kecanduan utang adalah penyakit – baik secara psikologis maupun spiritual. Konseling, psikoterapi, dan kelompok pendukung seperti Creditholics Anonymous adalah halal dan dianjurkan.
5. Zakat untuk Melunasi Utang
Banyak orang tidak tahu bahwa gharimin (orang yang terlilit utang) adalah salah satu dari delapan golongan penerima zakat. Allah sendiri yang menyebutkan dalam QS. At-Taubah 9:60. Jika Anda terlilit utang yang tidak mampu Anda bayar – jangan malu. Zakat halal untuk Anda terima.
6. Doa Khusus dari Rasulullah
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang sangat panjang untuk perlindungan dari berbagai macam kesulitan. Potongannya yang terkait dengan utang:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gelisah, sedih, lemah, malas, bakhil, pengecut, lilitan utang, dan tekanan orang-orang.” (HR. Tirmidzi).
Baca setiap hari. Minimal setelah salat.
Apa yang Bisa Kita Lakukan? (Bagi yang Tidak Kecanduan)
Kita yang saat ini masih sehat secara finansial dan mental juga punya tanggung jawab. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa ingin Allah menyelamatkannya dari kesusahan hari kiamat, maka hendaknya ia memberi kelonggaran kepada orang yang sedang dalam kesulitan (dalam membayar utang), atau memaafkannya.” (HR. Muslim).
Artinya:
- Jika Anda punya saudara atau teman yang terlilit utang, beri mereka kelonggaran. Jangan tagih dengan kasar.
- Jika Anda mampu, lunasi utang mereka – apalagi jika mereka sudah benar-benar tidak berdaya.
- Jangan menambah beban dengan menghakimi atau mempermalukan.
Kita hidup di zaman di mana pinjaman online hanya dengan satu klik. Iklan-iklan manis terus merayap masuk ke rumah kita. Banyak saudara kita yang terjebak.
Tugas kita bukan menghakimi, tapi membantu mereka keluar – dengan harta, dengan tenaga, dan yang terpenting, dengan doa.
Penutup: Kecanduan Utang Bukan Akhir Segalanya
Kreditholisme bukan vonis mati. Orang bisa pulih. Otak bisa berubah. Utang bisa dilunasi. Dan rahmat Allah sangat luas.
Jika Anda saat ini sedang terlilit utang dan merasa tidak ada jalan keluar – tolong, jangan putus asa. Putus asa adalah perbuatan setan. Pintu taubat masih terbuka. Bantuan ada di sekitar Anda. Keluarga, teman, konselor, lembaga zakat – mereka bisa membantu.
Rasulullah ﷺ adalah pribadi yang paling dermawan. Beliau tidak pernah pelit. Tapi beliau juga tidak pernah berutang untuk hal-hal yang tidak perlu. Beliau mengajarkan keseimbangan.
Semoga Allah melindungi kita semua dari lilitan utang yang menghancurkan – di dunia dan di akhirat. Aamiin.
Referensi: Jeżewski, Robert. “Creditaholism-a new behavioral addiction to borrowing.”
Artikel Lainnya











