Riyadh, 1984 – Sebuah konferensi kedokteran tingkat tinggi berlangsung di Riyadh, Arab Saudi. Para ilmuwan dari berbagai negara berkumpul untuk mempresentasikan temuan-temuan terbaru di bidang medis. Namun, tak ada yang menyangka bahwa konferensi ini akan menjadi saksi dari sebuah peristiwa yang mengubah hidup seseorang secara total.
Di tengah forum ilmiah itu, seorang profesor anatomi asal Thailand maju dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia menyatakan diri keluar dari agama lamanya dan memeluk Islam. Namanya Prof. Dr. Tagata Tagasone – saat itu menjabat sebagai Kepala Departemen Anatomi dan Embriologi di Universitas Chiang Mai, Thailand. Beberapa waktu kemudian, ia diangkat menjadi Dekan Fakultas Kedokteran di universitas yang sama.
Apa yang menyebabkan seorang ilmuwan sekaliber itu mengambil keputusan sebesar itu? Bukan mimpi. Bukan pula tekanan sosial. Melainkan satu ayat dari Al-Qur’an yang dibacakan kepadanya: Surat An-Nisa ayat 56.
Bukan Sekadar Cerita Neraka
Bagi kebanyakan orang awam, ayat ke-56 dari surat An-Nisa ini mungkin hanya terdengar seperti gambaran tentang siksa neraka. Bunyinya kurang lebih demikian:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 56)
Namun, Prof. Tagasone membaca ayat ini dengan kacamata seorang ilmuwan. Ia tidak berhenti pada makna lahiriah tentang azab. Ia bertanya: mengapa harus kulit? Dan mengapa harus diganti?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya membawanya pada sebuah kesimpulan yang mengguncangkan hatinya.
Sains di Balik Sepotong Kulit
Untuk memahami apa yang membuat Prof. Tagasone terperangah, kita perlu memahami satu fakta dasar tentang tubuh manusia.
Kulit bukan sekadar pembungkus daging dan tulang. Ia adalah organ sensorik terbesar yang kita miliki. Di dalamnya terdapat jutaan ujung saraf yang bertugas mendeteksi suhu, tekanan, dan – yang paling penting dalam konteks ini – rasa sakit (nyeri). Para ahli menyebut reseptor khusus untuk nyeri ini sebagai nociceptor.
Inilah kuncinya: jika kulit terbakar sampai habis (dalam istilah medis disebut luka bakar derajat tiga), maka ujung-ujung saraf di area tersebut ikut hancur. Akibatnya, area yang terbakar itu menjadi mati rasa. Ia tidak lagi bisa merasakan apa pun – termasuk rasa sakit dari api.
Nah, dalam konteks azab neraka yang digambarkan berlangsung terus-menerus tanpa henti, bagaimana mungkin seseorang terus merasakan panasnya api jika kulitnya sudah hangus dan mati rasa?
Jawabannya hanya satu: kulit harus diperbaharui – dengan semua ujung sarafnya yang utuh – agar sensasi nyeri itu kembali hadir.
Itulah tepat yang dijelaskan Al-Qur’an 1.400 tahun lalu, ketika ilmu kedokteran modern masih ribuan tahun lagi dari penemuan ini.
Membaca QS An-Nisa 56 dengan Kacamata Sains Modern
| Frasa dalam Al-Qur’an | Arti Harfiah | Penjelasan Ilmiah | Temuan Sains Modern |
|---|---|---|---|
| “Setiap kali kulit mereka hangus” | Kulit terbakar sampai habis | Luka bakar derajat tiga – seluruh lapisan kulit hancur, termasuk ujung saraf | Klasifikasi derajat luka bakar baru dikenal luas pada abad ke-20 |
| “Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain” | Kulit baru diciptakan kembali | Regenerasi jaringan kulit yang mengandung ujung saraf fungsional | Konsep cangkok kulit (skin graft) berkembang abad ke-19; pemahaman regenerasi saraf baru sempurna abad ke-20 |
| “Agar mereka merasakan azab” | Supaya sensasi nyeri terus ada | Nyeri hanya bisa dirasakan jika ujung saraf (nociceptor) utuh | Nociceptor pertama kali diidentifikasi oleh Charles Sherrington pada tahun 1906 |
| “Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” | Kekuasaan dan kebijaksanaan Allah | Pengetahuan ini berasal dari Pencipta kulit itu sendiri | Fakta ilmiah baru diketahui manusia berabad-abad setelah Al-Qur’an turun |
Dari Keraguan Menuju Keyakinan
Para peneliti Muslim dalam konferensi itu tidak serta-merta langsung membacakan ayat kepada Prof. Tagasone. Mereka melakukan pendekatan secara bertahap, layaknya sesama ilmuwan.
Pertama, mereka menunjukkan kepadanya beberapa ayat Al-Qur’an dan hadis yang berkaitan dengan spesialisasinya: anatomi dan embriologi. Mereka juga menyampaikan tulisan dari Prof. Keith Moore – seorang ahli embriologi dunia yang bukunya The Developing Human menjadi rujukan standar di fakultas kedokteran di seluruh dunia. Dalam tulisannya, Prof. Moore mengakui adanya keselarasan yang menakjubkan antara deskripsi Al-Qur’an tentang tahap-tahap perkembangan janin dengan temuan embriologi modern.
Prof. Tagasone tentu mengenal nama Prof. Moore. Ia sangat terkesan.
Kemudian, mereka masuk ke bidang spesialisasi Tagasone sendiri: anatomi dan dermatologi (ilmu kulit) . Mereka bertanya tentang fungsi sensorik kulit – khususnya, bagaimana kulit bisa merasakan panas dan nyeri.
Prof. Tagasone menjawab dengan tegas: “Ya, jika luka bakarnya dalam, kulit akan kehilangan sensitivitas.”
Lalu mereka membacakan QS. An-Nisa ayat 56.
Prof. Tagasone terdiam. Kemudian ia berkata: “Saya setuju. Ini menunjukkan bahwa mereka – sejak dulu – mengetahui bahwa reseptor rasa sakit itu berada di kulit. Maka mereka (dalam gambaran Al-Qur’an) menempatkan kulit yang baru.”
Pertanyaan yang Menentukan
Para peneliti kemudian melontarkan pertanyaan yang paling krusial:
“Apakah mungkin ayat-ayat ini berasal dari sumber daya manusia? Mungkinkah Nabi Muhammad – yang tidak bisa baca tulis – mendapatkannya dari orang lain?”
Jawaban Prof. Tagasone tegas: “Tidak mungkin. Sama sekali tidak mungkin berasal dari sumber manusia mana pun.”
Ia balik bertanya: “Lalu dari mana Muhammad mendapatkan pengetahuan ini?”
Mereka menjawab: “Dari Allah. Pencipta segala sesuatu yang ada.”
Prof. Tagasone kemudian bertanya lagi: “Siapa itu Allah?”
Mereka menjawab dengan penjelasan yang sederhana namun mendalam:
“Jika engkau menemukan kebijaksanaan dalam ciptaan, itu karena ia berasal dari Yang Maha Bijaksana. Jika engkau menemukan pengetahuan di alam semesta ini, itu karena ia diciptakan oleh Yang Maha Mengetahui. Jika engkau menemukan kesempurnaan, itu adalah bukti bahwa ia ciptaan dari Yang Maha Sempurna. Jika engkau menemukan keteraturan dan kesatuan, itu adalah bukti bahwa hanya ada satu Pencipta.”
Saat itu juga, di hadapan para peserta konferensi, Prof. Tagata Tagasone mengucapkan dua kalimat syahadat. Seorang ilmuwan senior, kepala departemen anatomi, dekan fakultas kedokteran – menundukkan kepalanya di hadapan kebenaran yang ia temukan sendiri melalui penelitian dan nalarnya.
Garis Waktu – Manusia vs Al-Qur’an dalam Memahami Kulit & Nyeri
| Tahun / Periode | Peristiwa / Penemuan | Pengetahuan tentang Ujung Saraf Kulit |
|---|---|---|
| 609–632 M | Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad ï·º – QS An-Nisa 56 | Menyebutkan perlunya pergantian kulit agar rasa sakit terus terasa |
| ± 1000 M | Ibnu Sina (Avicenna) menulis The Canon of Medicine | Pengetahuan dasar tentang panca indra, tetapi belum ada ujung saraf spesifik |
| 1664 M | Thomas Willis menerbitkan Cerebri Anatome – studi awal tentang saraf | Saraf diidentifikasi, tetapi reseptor nyeri spesifik belum diketahui |
| 1839 M | Theodor Schwann merumuskan teori sel | Struktur kulit mulai dipahami di tingkat sel |
| 1906 M | Charles Sherrington mengidentifikasi nociceptor (reseptor nyeri) | Pertama kali sains mengakui adanya ujung saraf khusus untuk rasa sakit |
| Abad ke-20 | Klasifikasi luka bakar derajat satu, dua, tiga | Pemahaman utuh bahwa luka bakar derajat tiga menyebabkan mati rasa |
| 1984 M | Prof. Tagata Tagasone masuk Islam setelah membaca QS 4:56 | Ilmuwan modern mengakui kebenaran Al-Qur’an 1.400 tahun lalu |
Apa yang Tidak Dikatakan Al-Qur’an Juga Penting
Salah satu aspek yang sering luput dari perhatian adalah keheningan Al-Qur’an dari kesalahan. Pada zaman Nabi, banyak orang percaya bahwa rasa sakit berasal dari hati, atau dari darah, atau dari “roh” yang tersebar di sekujur tubuh. Tidak ada satu pun teori kuno yang secara akurat menunjuk kulit sebagai lokasi utama reseptor nyeri.
Al-Qur’an tidak mengadopsi mitos-mitos populer saat itu. Ia langsung menyebut fakta yang baru terbukti secara ilmiah pada abad ke-20. Ini bukanlah kebetulan.
Kesimpulan: Antara Iman dan Akal
Kisah Prof. Tagata Tagasone bukanlah sekadar cerita mualaf yang mengharukan. Ia adalah studi kasus tentang bagaimana seorang ilmuwan sejati – yang terbiasa dengan metode ilmiah, pengamatan, dan kesimpulan berdasarkan bukti – akhirnya sampai pada keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu dari Sang Pencipta.
Prof. Tagasone tidak masuk Islam meskipun sains. Ia masuk Islam karena sains. Karena ia mengikuti bukti, dan bukti itu membawanya kepada Al-Qur’an.
Allah berfirman dalam surat Shaad ayat 87-88, yang kurang lebih berarti: “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui kebenarannya setelah beberapa waktu lagi.”
Bagi Prof. Tagasone, waktu itu tiba di konferensi kedokteran di Riyadh, ketika seorang profesor anatomi berhadapan langsung dengan firman Pencipta anatomi itu sendiri.
Referensi: di sini
Artikel Lainnya:








