Home / Lainnya / 50% Muslim Eropa Hidup dalam Bayang-Bayang Diskriminasi

50% Muslim Eropa Hidup dalam Bayang-Bayang Diskriminasi

Menggugat Janji Eropa

Eropa bangga dengan piagam hak asasinya. Namun bagi Fatima, 26 tahun, lulusan teknik asal Lyon, kebanggaan itu sirna saat 30 lamaran kerjanya dengan foto berjilbab semuanya ditolak. Ketika ia mengirim lamaran tanpa foto, panggilan wawancara datang. Fatima bukan pengecualian. Ia adalah salah satu dari 50% Muslim Eropa yang laporannya dirilis Badan Hak Fundamental Uni Eropa (FRA) pada 2024.

Dokumen setebal 134 halaman ini bukan sekadar laporan. Ia adalah otopsi sosial atas apa yang terjadi pada 26 juta Muslim di Eropa. Data dikumpulkan dari 9.604 responden di 13 negara: Austria, Belgia, Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Irlandia, Italia, Luksemburg, Belanda, Spanyol, dan Swedia.

Angka yang Tak Bisa Dibantah

50% Muslim mengatakan mereka merasa didiskriminasi dalam 5 tahun terakhir. Angka ini naik drastis dari 2016. Jika dirinci per tahun, 38% mengalaminya dalam 12 bulan terakhir. Sebagai perbandingan, survei Eurobarometer 2023 mencatat hanya 21% populasi umum UE yang merasa didiskriminasi.

Tabel 1: 5 Negara dengan Diskriminasi Tertinggi terhadap Muslim (12 bulan)

NegaraPersentase Muslim yang Mengalami Diskriminasi
Austria66%
Finlandia60%
Jerman57%
Denmark51%
Belgia41%

Sumber: FRA EU Survey on Immigrants and Descendants of Immigrants, 2022

Yang menarik, Italia (23%), Spanyol (15%), dan Swedia (cat: data perlu hati-hati karena metode survei) mencatat angka terendah. Namun bukan berarti aman. Di Swedia, misalnya, pelecehan rasial justru naik 40% dalam dua tahun terakhir menurut laporan pendukung.

Medan Paling Panas – Pekerjaan

Inilah sektor paling brutal. 39% Muslim mengaku didiskriminasi saat mencari kerja, 35% di tempat kerja. Alasan utama: nama yang terdengar asing, warna kulit, atau pakaian religius.

Fenomena “Penalti Jilbab”:

  • Muslimah berjilbab yang bekerja: 46%
  • Muslimah tanpa jilbab yang bekerja: 61%

Selisih 15 poin persen – sebuah jurang pemisah di era modern.

Muslim juga 3 kali lebih mungkin bekerja di pekerjaan kasar (elementary occupations) dibanding populasi umum (27% vs 8%). Lebih ironis lagi, 41% Muslim kelebihan kualifikasi untuk pekerjaan mereka, artinya mereka bekerja di bawah level pendidikan yang sebenarnya.

Perumahan – Pintu Tertutup untuk Nama Asing

Mencari rumah di Eropa bagi Muslim seperti memanjat tembok kaca. 35% mengalami diskriminasi saat menyewa atau membeli rumah dalam 5 tahun terakhir. Ini lonjakan signifikan dari 22% pada 2016.

Apa yang terjadi?

  • 26% merasa pemilik rumah pribadi menolak mereka karena latar belakang etnis.
  • 13% diminta membayar harga sewa/uang muka lebih tinggi.
  • 9% ditolak oleh petugas perumahan umum.

Akibatnya:

  • 40% Muslim tinggal di rumah padat (overcrowded), vs 17% populasi umum.
  • 18% tidak mampu menghangatkan rumah di musim dingin, vs 9% populasi umum.

Pelecehan Rasial – Normalisasi Kebencian

27% Muslim mengalami pelecehan rasial dalam 5 tahun terakhir, dan 22% dalam setahun terakhir. Bentuk paling umum:

  • Tatapan tidak sopan/gerakan ofensif: 17%
  • Komentar ofensif/ancaman: 13%
  • Ancaman kekerasan: 3%

Untuk Muslimah berjilbab, angkanya lebih mengerikan: 42% pernah mengalami tatapan tidak sopan atau gerakan ofensif karena jilbab mereka.

Tempat Terjadinya Pelecehan Rasial

LokasiPersentase
Jalan, taman, tempat umum55%
Tempat kerja13%
Toko, kafe, restoran, pub11%
Lainnya12%

Sumber: FRA 2024

Polisi – Pelindung atau Ancaman?

27% Muslim pernah dihentikan polisi dalam 5 tahun terakhir. Dari jumlah itu, 42% yakin penghentian itu karena etnis atau latar belakang imigran mereka. Untuk yang dihentikan dalam setahun terakhir, angkanya naik menjadi 49%.

Ini adalah profilisasi etnis â€“ praktik terlarang namun nyata.

Akibatnya, kepercayaan pada polisi anjlok. Muslim yang merasa didiskriminasi secara rasial memberi skor kepercayaan 5,7 dari 10, dibandingkan yang tidak mengalami diskriminasi (7,0). Mereka yang merasa distop karena etnis memberi skor lebih rendah lagi: 4,2.

Mengapa Hanya 6% yang Melapor?

Inilah temuan paling menyayat hati. Dari ribuan kasus diskriminasi, hanya 6% korban yang melapor. Mengapa?

  • 39% yakin “tidak akan ada perubahan”
  • 31% menganggap insiden “terlalu sepele”
  • 22% berkata “ini sudah sering terjadi”
  • 22% tidak punya bukti

Ini bukan sekadar angka. Ini adalah normalisasi penderitaan. Muslim Eropa telah terbiasa dihina, ditolak, dan diintimidasi hingga mereka sendiri meremehkan pengalaman mereka sendiri.

Kesadaran akan lembaga pengaduan juga rendah. Hanya 36% yang tahu keberadaan equality bodies (lembaga kesetaraan), dan hanya 27% yang tahu organisasi pendukung korban diskriminasi.

Pendidikan dan Pekerjaan – Lingkaran Setan Kemiskinan

30% Muslim muda (18-24 tahun) putus sekolah, tiga kali lipat dari rata-rata UE (9,6%). Untuk Muslim dari Afrika Sub-Sahara, angkanya mencapai 45%.

Di sisi pekerjaan:

  • 28% Muslim bekerja dengan kontrak sementara, vs 11% populasi umum.
  • 19% mengalami kekurangan material parah (tidak bisa bayar tagihan, tidak bisa hangatkan rumah, dll), vs 6% populasi umum.
  • 61% anak-anak Muslim berisiko kemiskinan, vs 17% populasi umum.

Kesehatan – Akses yang Tidak Setara

11% Muslim merasa didiskriminasi saat mengakses layanan kesehatan (dokter, rumah sakit). Mereka dua kali lebih mungkin memiliki kebutuhan medis yang tidak terpenuhi dibanding populasi umum (8% vs 4%). Alasan utama: tidak mampu membayar (27%) dan antrean panjang (16%).

Penutup: Panggung untuk Perubahan

Laporan FRA 2024 bukan untuk menakut-nakuti. Ia adalah cermin bagi Eropa. Seperti kata salah satu responden: “Saya lahir di sini, bayar pajak, anak saya tentara. Tapi sampai kapan saya harus merasa asing di rumah saya sendiri?”

Rekomendasi FRA:

  1. Negara anggota harus menegakkan hukum anti-diskriminasi dan memberikan sanksi yang efektif.
  2. Hentikan profilisasi etnis oleh polisi; latih aparat tentang bias implisit.
  3. Adopsi rencana aksi nasional anti-rasisme yang secara eksplisit menargetkan anti-Muslim.
  4. Perkuat lembaga kesetaraan dengan sumber daya dan mandat yang memadai.
  5. Kumpulkan data diskriminasi yang terdisagregasi untuk monitoring yang akurat.

Eropa bisa memilih: terus menjadi simbol toleransi atau menjadi saksi runtuhnya kepercayaan. Laporan ini menunjukkan bahwa jalan menuju kesetaraan masih panjang, tapi bukan tidak mungkin.

ReferensI: di sini

Artikel Lainnya:

Tagged:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

[mc4wp_form]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *